Gelisah


Cerpen Y. Thendra B. P.


Seorang anak kecil bertanya pada ibunya, “Di mana matahari tidur malam ini, Bu?”

Ibunya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya itu. Sembari membelai rambut anaknya, ibu itu menjawab dengan bijak. “Kelak besar kau akan tahu. Nah, sekarang tidurlah biar besok kamu tidak terlambat berangkat ke sekolah.”

Lalu ibu itu mulai melantunkan lagu pengantar tidur buat anaknya. Hingga ibunya terlelap. Tetapi anak kecil itu tidak jua bisa memejamkan mata. Berulang kali ia menggelinding ke kanan dan ke kiri seperti bolak sodok.

Akhirnya perlahan-lahan ia turun dari atas ranjang menuju tingkap kamar. Disibakkannya jendela. Angin malam yang jahat perangainya seketika menyerbu masuk ke dalam kamar. Langit begitu cerah. Bintang-bintang berkeliaran di mana-mana.

“Di mana ya, matahari tidur malam-malam begini?” bisiknya pelan.

Hanya suara serangga malam yang bersahut-sahutan menjawab pertanyaannya itu. tetapi ia sungguh tidak mengerti bahasa binatang. Lalu ia termenung. Memikirkan pertanyaan yang tak habis-habis itu. Sementara ibunya asyik mendengkur di atas ranjang yang berbau mimpi. Sibuk bergulat dengan mimpinya.

Semalam suntuk ia membingkai diri di tingkap kamar, hingga matahari yang diributkannya itu muncul.

“Hai matahari semalam kamu tidur di mana?” teriaknya girang ketika matahari yang semalam suntuk ditanyakannya baru bangun. Tapi matahari itu diam saja, seperti tak peduli dan terus sibuk membagi-bagikan cahaya. Hanya ibunya yang tersintak mendengar teriakannya yang keras itu.

Dalam keadaan setengah sadar, ibunya terkejut ketika melihat ia berdiri di dekat tingkap. Lalu dihampirinya anaknya itu sambil tangannya merontokkan sisa-sisa mimpi yang bergantungan di ujung matanya.

“Kamu sudah bangun, Sayang,” sapanya.

“Saya belum tidur, Bu.”

“Jadi semalaman kamu tidak tidur?”

Ia terdiam. Kepalanya tertunduk karena rasa salah bercampur dengan kantuk yang tak tertahankan.

“Ibu marah ya?” tanyanya.

“Tidak, Sayang,” sahut ibunya. Lalu ibunya memeluknya dari belakang.

“Bolehkah ibu tahu, kenapa kamu bertanggang semalam?”

“Saya mau tahu perihal matahari itu.”

“ Percayalah, kalau kamu sudah besar kamu akan tahu semua itu”

“Kenapa harus menunggu besar dulu. Bagaimana jika saya tidak pernah besar?”

Ibunya pun terdiam.

***

| 1 Komentar

Surat Untuk Ayah


Cerpen Imron Supriyadi


Malam kian kelam. Aku terbaring diatas balai bambu, menerawang menatapi diri yang makin termakan usia. Tiba-tiba kamar terasa sumpek, panas, dan beraroma kurang sedap. Desiran angin menembus kamarku hanya membawa kabar yang sulit diterka.

Aku menangis ketika kamarku dicabik,cubit atau digilas oleh realita. Kucoba menagabarkan pada orang sekitar, tetapi mereka hanya menggeleng, meninggalakan tapak tak berbekas. Kadang mereka menatapku sinis, lalu pergi tanpa ucapan maaf. Mungkin, saatnya aku harus mengabarkan ini pada ayah, pikirku. Aku bangkit, dan merapikan kamar.

“Ayah…,” tulisku mengawali surat itu. “Meski kau akan menangis setelah membaca surat ini, tapi segeralah kau usap air mata itu. Jangan kau biarkan air mata berurai dipipimu. Aku malu jika Ayah hanya bisa menangis tanpa suara, dan berbisik tanpa kata. Ayah, anakmu kini sedang dalam keprihatinan, bertarung dengan masa depan, berlindung di bawah buramnya cahaya malam.

Cahaya lampu 100 watt yang Ayah belikan dulu, sepertinya tak mampu memancarkan
suasana baru dalam kamarku. Bahkan, Ayah, kamarku kini pengap disusupi oleh cerobong asap pabrik, udara kendaraan bermotor atau angin penderitaan, yang datangnya dari pinggir trotoar.”

Aku berhenti menulis ketika Ratih, istriku, menerobos masuk kamar. Ia pun duduk dan menatapku dalam diam. Aku hanya melirik ketika ia memunguti dan mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan di lantai kamar. Ratih yang ceria, kini bias karena keadaan. Sapa mesranya yang dulu menggiurkan setiap lelaki, kini hanya sebatas senyum hambar yang tak bermakna. Aku sendiri kadang sulit menerjemahkan, gerangan apa yang sedang dirasakannya.

“Mas Im,” Ratih membuka kebisuan.

Aku hanya menoleh. Tubuh semampai itu kuamati dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kubiarkan saja ketika Ratih duduk merapat dan membaca surat yang belum sempat selesai kutulis.

“Sebaiknya, Mas Im tak menulis surat untuk ayah. Keadaan kamar kontrakan kita yang makin dilalaikan tuan rumahnya, tak semestinya diketahui ayah. Toh, surat-surat yang sudah terkirim, sampai tak ada yang dibalas. Mungkin, sekarang ayah lebih sibuk dengan tugas dan aktivitasnya sendiri, ketimbang memikirkan kondisi kamar kita yang dibanjiri air mata ini,” katanya.

Aku tercenung mendengar ucapan Ratih. Namun batinku terus bergolak. “Ratih, tolong simpan kata-katamu,” ucapku coba memberi pengertian.

Ratih kemudian memandangku tajam. Ia pun hanya diam saat aku melanjutkan pembicaraan.


“Aku tahu, kesibukan ayah telah banyak menyita kepedulian terhadap kita. Namun, bergantinya struktur desa dan dengan jabatan kepala dusun dipegang ayah, adalah peluang kita mengabarkan, bagaimana naisb kita di kamar ini kelak,” kataku optimis.

“Tapi, Mas,” sergah Ratih pelan. “Aku belum yakin benar jika surat ini akan mengubah sikap ayah. Sebab, digantinya aparat desa, belum menjamin kemandirian ayah untuk bersikap. Apalagi, kepergian kita ke kamar ini sudah di latar belakangi, dengan pertentangan dengan ayah. Sulit rasanya…”

“Ratih,” potongku tiba-tiba. “Kegetiran masa lalu membuat kita berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu hari ini. Tapi, masa lalu membuat kita bijak, meskipun kita kesulitan menerjemahkan kebijaksanaan itu sendiri. Sebenarnya ayah bukan manusia yang tak pernah memikirkan nasib anaknya. Tapi, dia telah masuk lingkaran struktural. Jadi apa pun yang dikerjakannnya, tentu tidak lepas dari kepentingan itu,” kataku.

Batinku terus bergejolak. Suasana makin menghimpit. Dadaku tersengal sesak ketika tiba-tiba kepulan asap mengitari sekeliling kamar. Kucoba menghalaunya. Namun aku tersingkir ke bawah meja. Hanya sobekan kertas dan pena yang sempat kupegang. Besok atau lusa, surat ini harus segera kukirim pada Ayah, pikirku.

Aku hanya menurut saja, saat Ratih muncul dan memapahku ke pembaringan. Seberkas kekhawatiran tergambar diwajah Ratih. Isak tangis Ratih yang selama ini kurindukan tiba-tiba menyeruak ketelinga. Sebongkah kebahagiaan seketika menyusup dalam kalbuku. Ratih kini telah menyuarakan penderitaannya yang sekian lama terpendam.

“Ratih, aku tidak apa-apa,” ucapku menenangkan perasaannya.

Dengan pandangan sedikit kabut, kutatap wajah Ratih yang lusuh. Namun hanya kepedihan yang tersemburat di sana. Dada kiriku terasa sesak, namun kucoba terus bertahan. Ratih memandangiku dengan kepedihan dalam, dan isak tangisnya menggema keluar ventilasi kamar, kesetiap telinga tetangga.

“Ratih, berhentilah kau menangis. Tak perlu mereka tah, kita sedang menderita di kamar ini. Kalau pun mereka mendengar, itu hanya menambah beban mereka. Sementara nasib mereka tidak berbeda dengan kita,” kataku meredam gejolak batin Ratih sore itu.

Tangis Ratih pun reda. Azan Magrib menggema, membangkitkanku dari pembaringan dan Ratih pun mengikuti.

Aku melangkah, lalu menundukkan diri kehadapan Sang Khalik. Dalam penghambaanku malam itu, kutuangkan segala doa untuk ayah, pribadi, dan istriku.

“Ya Allah, semoga ayah kami di kampung terkuak kejernihan pikirannya memandang seluruh isi kamar ini, demikian desa kami yang sedang dalam genggamannya, serta dalam manapat diri dia sendiri.”

“Ya Allah, anugerahkanlah kami khusnul khatimah kepada ayah kami.Taburkanlah rezeki rohani kedalam ubun-ubunnya, sehingga peran yang diambilnya adalah peran yang sesungguhnya nyepuhi, bukan fungsi fighter.”

Segala beban batin kutuangkan di atas sajadah malam ini, semoga hati ayah untuk membalas surat-surat kami.

***
Jl. Letnan Yasin-Palembang, 1997-2002
(Cerpen ini pernah dimuat Harian Umum Sriwijaya Pos Palembang).

| Tinggalkan komentar

Aku Dan Sosok Itu


Cerpen Ratna (SMU 6)

Pagi itu kutemukan sosok tubuh renta. Terseok di hadapanku, menatapku seolah cerminan diriku. Meronta memohon aku menyambut tangannya.

Tidak, pikirku. Ia bau dan aku enggan mendekatinya.

Ia meronta lagi dengan suara yang lebih pilu.

Berkecamuk dalam hatiku, akankah aku menolongnya.

Lama aku berpikir. Dunia menghendaki aku mengabaikannya.

Apa yang harus aku lakukan, aku bingung. Sementara ia tetap meronta dengan suara lebih memilukan lagi.

“Diam!” teriakku lantang sambil aku menendangnya. Kupandangi ia lagi.

Sekarang ia diam. Tak bergerak. Aku lebih bingung dari sebelumnya. Rontanya tak terdengar lagi. Yang ada hanya bau busuk tubuhnya yang menguap terus menerus.

Sempat juga terpikir dalam pikirku, mungkin ia hanya pura-pura.

Kutendang ia lagi. Tidak ada reaksi bahkan tidak ada suara gerak sama sekali. Yang ada hanya suara jantungku.

Kutinggalkan saja ia sendiri Pikirku, ia sudah mati. Dan ia tak berguna apa-apa bagiku. Tak bermanfaat bagiku.

Ah… gelap.

Aku tak bisa melihat apa-apa. Sesaat kemudian terang. Kulihat sosok itu melambai bersama seorang malaikat di sisinya. Sedang aku, kepalaku mulai berasap

***

| 1 Komentar

ku Bukan Bayangan


Cerpen S. Kurnian Daru

Angin itu berhembus semakin kencang, bahkan rasanya sanggup membuyarkan kepingan pikiran dalam otakku. Sayangnya, akar-akar pikiranku tertancap dalam dan tak rungkat oleh angin, entah badai….

“Rokokmu tinggal satu hisapan lagi.”

Kukeluarkan bungkus rokok Marlboro merah dari dalam saku.

“Tidak, terima kasih. Nafasku sudah sesak, bahkan satu hisapan ini pun tak sanggup kuteruskan.”

Kubuang batang rokok yang tinggal dua centimeter yang sudah terasa panas di jariku, mungkin juga panasnya merambat dalam hatiku.

“Ton, apa yang kau rencanakan? Menikmati nasi goreng lagi malam ini?”

Diam. Hening. Tetap menikmati dingin angin sore di bangku taman. Lima menit kemudian…

“Pergi, lompat pagar dan berkumpul dalam hangatnya malam. Tapi aku masih belum
pasti.”

“Kau, Tan, mau ke mana kau malam ini?.”

“Malam jam berapa?”

Lima menit terdiam.

Benar, bodoh, jam berapa. Bagiku, setiap jam adalah waktu.

“Sepulang ke rumah.”

Aku tak kuasa tersenyum. Bodohnya aku.

“E…mandi, makan malam, dan memutar otak mencari jawaban untuk soal-soal PR ku, kenapa?.”

Senyumku keluar.

“Tan, aku nanti malam kewarung mang Sani, makan nasi goreng babat, minum es teh, merokok dan bercerita dengan Saipul dan Deden.”

“Sampai pagi Ton?,”

“Mungkin.” Jawabku dalam senyum dan memandang hilangnya sinar matahari, yang telah mengundang gelap diikuti oleh suara adzan yang memanggil.

Angin kembali bertiup, kali ini tidak hanya kencang tapi juga membawa
kedinginan yang menusuk tulang-tulangku yang terbalut lengan panjang.

Aku berdiri, berjalan meninggalkan kursi taman yang cat merahnya sudah tak kelihatan. Aku pulang, Tania pulang mandi, makan, kerjakan tugas dan ketika semua terlelap, jam sebelas malam, Toni kembali melompati pagar menuju warung mang Sani, makan nasi goreng dan es teh. Bercerita dengan Saipul dan Deden akan nikmatnya hari ini mendapat rejeki dan lucunya perjalanan hidup, hingga kembali dalam kamar, ketika mata telah terkantuk, melepaskan celana jeans butut yang sudah sobek serta jaket jeans belel, menyimpan topi hitamku yang menyembunyikan rambutku yang sebahu, menyembunyikan Marlboroku.

Dan…esok pagi aku terbangun, sebagai Tania dengan rok hitamnya….Tania si anak perempuan mama.

***
Sudut, alam raya, 24-9-02

| Tinggalkan komentar

Doa Yang Dikabulkan


Cerpen Veldy Umbas

”Tuhan itu tidak ada, Nduk. Cari di kolong- kolong meja di mana tulang belulang berserakan. Di parit-parit para bayi tak lahir bergelimpangan, di sudut- sudut lorong pun manusia terkapar tak bernyawa. Percuma, Nduk. Tuhan tak bisa menolongmu menyelamatkan dunia.”

“Tapi aku akan menjadi pendamai dunia,” si Nduk bercita- cita.

“Bodoh. Marx dan Sukarno pernah punya cita-cita serupa. Yesus sudah datang untuk itu. Yitzak Rabin malah ditembak mati. Osama Bin Laden telah memulainya, dan Muhammad menjadi inspirasi jutaan pendamai itu. Kau bisa digotong pemuda kampung dan di masukan ke lembah pembuangan sampah. Ide seperti itu sampah.”

“Perjuangan mereka harus ada yang meneruskan. Manusia boleh mati, tapi ide hidup terus,” si Nduk lagi bela-belain.

Ah kau tau apa, Nduk. Siapa yang kau bela. Yang dibela pun tak mau. Ini koran tadi pagi. Dua mayat lagi di temukan tanpa kepala. Kemarin tanpa tangan. Minggu lalu tanpa anus dan buah pelernya. Suatu pembenaran yang sangat menyudutkan si Nduk.
Itu yang tradisionil. Kemarin senjata tentara telah memusnakan penduduk sipil di Aceh. Kemarinnya lagi, baku tembak polisi dan tentara. Lusa kau akan lihat rakyat saling bunuh atas segelas air dan roti.

Kakek tua itu tentu punya alasan yang lebih dari berita-berita sampah di koran
pagi itu. Tapi si Nduk maklum atas pendirian ideologi yang pernah bahkan masih
dianutnya walau sedikit menolak bila di tanya petugas kelurahan.

“Tapi harus ada yang menghentikannya. Kita diciptakan sebagai makhluk mulia.”

“Kau ini. Sudah kubilang Tuhan itu tidak ada. Yang ciptakan Tuhan, ya kita sendiri. Apa peduli Tuhan dengan manusia. Toh dia tetap saja egois. Harus ini-itu. Jangan ini-itu. Untuk ini-itu. Nenek bengekmu pun tak diurusinya. Eh, manusia sok-sokan mewakili Tuhan. Perintah-Nya ini-itu. Keinginan-Nya ini-itu. Lalu yang jadi penghuni Surga Cuma dia orang. Kita dibuang ke neraka. Siapa pernah ke sana, Nduk. Itu bualan pinggir got, Nduk.”

Si Nduk tertunduk. Kakek keras kepala. Keparat. Atheis tahi kucing. Pikirannya cuma dirinya sendiri. Tidak mau memikirkan orang lain.

“Siapa yang kau pikirkan, Nduk?” kakek balas bertanya.

”Ya umat manusia. Ya, demi kita semua.”

“Tuhan sudah tidak waras bila Dia bersedia kau menggantikan posisi-Nya. Sudahlah, jangan kau jadi juru selamat lagi.”

“Harus ada jalan. Manusia tidak boleh begini terus.”

“Lalu kau mau apa?” tanya Kakek disusul batuk-batuk. Huk huk huk…

Kakek mati aja kenapa sih. Egois, tapi ndak mati-mati.

“Kubunuh aja kau ya, Kek.” Si Nduk bergegas mengambil pisau.

“Kau pasti bercanda, Nduk. Aku ‘kan kakekmu. Aku yang menyebabkan kau ada. Aku menikahi Sri Ningsih binti Komcis. Melahirkan Domong bin Manuttowojo. Nah Domong menikahi Sudallista bin Siti dan melahirkan kau, Ronggo Bromo Bajingan tengik tahi kuda. Mau bunuh eyangmu sendiri. Yang telah meyebabkan kehidupan dan nafasmu yang sekarang kau hisap dan keluar. Sialan.”

“Tarik nafas dalam-dalam sambil tutup mata. Dua kali, hitungan ketiga, pisau ini sudah menembus lambung,” teriak si Nduk.

”Jangan, Nduk. Tolong. Jangan. Hormatilah orang tua. Berbaktilah kau anak jahanam. Bahkan neraka tidak akan menerimamu. Kau mau ke mana kalau membunuh kakekmu sendiri?”

”Lha. Kan kakek sendiri yang bilang tidak ada neraka dan tidak ada surga.”

Diangkatnya tinggi-tinggi tangan ditopang lengan dan menghujam menikam lambung. Cruuettt! Darah segar berserakan di mana- mana, di sana sini, di dinding, di lantai, di badannya.

Si Nduk tertunduk lesuh. Ah, atheis, beragama, beriman, bertuhan, sama saja.

Dibasuh tangannya yang penuh darah dan berharap dia tak berdosa kepada Tuhan.

“Toh saya membunuhnya atas nama Tuhan.”

Di pandanginya jeruji besi yang kokoh menghalangi dia untuk lari. Kamar 3×4, lantai dingin, tempat tidur tak berkasur. Selimut kumal, gelas mangkok, sendal jepit. Semua menjadi harta benda sejak divonis penjara 20 tahun yang lalu. Di dinding masih terpampang penanggalan tahun sekarang, 2002. Besok si Nduk habis menjalani masa hukuman.

Tak ada keluarga yang akan dikunjungi setelah masa tahanan habis. Tak ada peluk mesra atas kerinduan yang dalam. Keluarganya satu demi satu di makan kebengisan zaman. Ya, di Maluku, Poso atas konflik harizontal. Ya peristiwa Mei, 27 Juli, Trisakti. Ya pembantaian pasca 30 september. Ya ini itu penghianatan kemanusiaan.

Si Nduk berdoa, “Tuhan, jangan biarkan aku bertemu dengan orang- orang seperti kakekku, kalau tidak aku akan kembali lagi ke sini.”

Sebulan kemudian. Di sudut kamar yang kosong, kecuali selimut kumal, gelas mangkok, sendal jepit, lantai dingin, tempat tidur tak berkasur, dan seorang renta terkapar lemas di ranjang tak berkasur.

“Kau,” bentak si sipir.

Tapi dia tak bangun. Sipir mengecek, rupanya dia sudah meninggal. Dia baru masuk seminggu yang lalu karena divonis membunuh.

***

Seoul 17 sept 2002

Posted in saran | 2 Komentar

Jiwa Yang Menyesal


Cerpen Arwan


Keringat yang berbisik lirih menyampaikan pesan raga tentang kelelahan yang datang menghimpit. Setiap tetes yang membasahi jubah lusuhnya kembali menyusu pada pori-pori. Jelas pandangan matanya menangkap bangunan penuh ramai orang-orang melepaskan lapar dan dahaga. Pandangan asing menerpa wajahnya yang penuh dengan debu jalanan.

“Warung makan ini begitu ramai oleh kecap kelaparan, hingga kehadiranku yang
tak diundang mengundang keanehan,” Prawira Aji berbicara dalam hatinya sementara matanya menyapu ruangan mencari tempat yang masih kosong, tak ada.

“Kisanak yang berjubah biru, bergabunglah denganku,” terdengar suara bersahabat
dan Prawira Aji merasakan pundaknya ditepuk lembut seseorang. Ragu mendahului
langkahnya kemudian berangsur mundur meninggakan ketenangan.

“Terimakasih, Kisanak. Siapakah Kisanak yang berbudi embun ini, yang memberikan
altar sejuk bagi tubuh lelahku.”

“Namaku Gading. Siapakah nama Kisanak yang bertutur sepoi ini, hingga membuat
kulit tubuhku menghangat.”

“Namaku Prawira Aji. Hendak kemanakah tujuan Kisanak?”

“Aku seorang pengembara tanpa tuju, aku telah berjalan jauh naik dan turun gunung mencari jiwa Pencinta, naluriku berkata bahwa Kisanak ini adalah orangnya.”

“Anda pandai bermain kata, Kisanak, saya juga seorang pengembara seperti Kisanak, yang masih mencari arti cinta.”

Dua jiwa pencinta bertemu dalam satu altar Cinta, duduk berhadapan saling berbagi cerita perjalanan. Jiwa Gading adalah pencinta keindahan cinta karena manis kata-katanya, sementara jiwa Prawira Aji adalah pencinta keindahan cinta dari kepedihan dan kegetirannya, keindahan luka dan duka, kenikmatan nestapa dan nelangsa.

Mereka berdua beriringan memijak jalan yang sama namun Gading melangkah di sisi kanan sedangkan Prawira Aji disisi kiri. Menuju satu gerbang yang sama, minum air dari telaga yang sama pula. Perbedaan hanya pada akhir pemahaman mereka.

“Aji Saudaraku,… pada suatu masa yang telah terlewati, jiwaku terantuk tiang rindu,… kemudian aku tersungkur tak berdaya di atas pangkuan kekasih, anganku membawanya ke nirwana Cinta, memakan buah-buah cinta saat senja memeluk jingga’. Jiwaku memadatkan keindahan yang menghambur menyelimuti ruang dan waktu”.

“Gading Saudaraku,… selembar lontar pernah kutuliskan tentang keindahan cinta, Cinta membuat kita mampu mengelana jauh tinggi menghampiri bintang-bintang dilangit juga menyelami kedalaman samudera airmata, karena di situ akan kita temukan bintang-bintangpun berkerlipan didasar samudera, seperti kerlip kejora mata sang kekasih. Keindahan Cinta tak mengenal gurita dan ikan hiu, Samudera Cinta hanya ada Ikan Emas, Ikan perak dan Ikan Mutiara, dan tahukah kamu saudaraku, bahwa tidak semua samudera menyimpan Mutiara di dalamnya.”

“Aji Saudaraku,… Dalam Keindahan Cinta kita rangkai buaian Cinta nan syahdu haru merayu, hingga cahaya rembulan terpinggir dan ketinggian singgasana bintang terlampaui. Keindahan Cinta membuat kita mampu terbang dan melayang dengan sayap-sayap harapan kelangit hakikat yang teramat biru.”

Dalam perjalanan tak membosankan walau tak terasa bermil-mil terlangkahi, namun kaki tak jua ingin mencari perebah.

Matahari memandang semakin sayu membuyarkan bayangan dua pasang kaki tertutup jubah usang ditiup angin perjalanan. Langkah semakin perlahan ditekan perbincangan tentang kelelahan yang melengketkan bibir-bibir pencinta. Kata-kata yang terucap adalah sisa-sisa ungkapan pada alam. Senyum yang tersungging adalah bias hati yang penasaran. Dengan sapa selembut belaian angin malam Gading menyentuh ujung daun pohon kesepian yang tumbuh rindang di pinggir jalan setapak jauh dari hutan belantara Cinta. Dedauannya bergoyang mengangguk gemerisiknya menyapa telinga hati mengikis lelah. Tubuh-tubuh kelelahan bersandar di batang halus karena punggung-punggung penyapa alam. Guratan-guratan serupa bait puisi menghias tiap dahan dan rantingnya. Dan di akarnya yang banyak menonjol terdapat akar yang besar berbekas guratan memerah darah. Tertulis bait pendahulu bagi jiwa yang menyusul terbubuh sebaris nama aneh namun mengundang detak keingintahuan.

“Setiap hariku adalah pengkhianatan terhadap nurani, ucapku adalah pengingkaran terhadap ayat Illahi, gerak tubuhku adalah bayangan Setan yang menjelma, dalam darahku mengalir darah serigala, bukan dari moyangku perjalananku adalah perjalanan menuju neraka, jangan ikuti alurnya.
Dan di tanah ini kulabuhkan tubuh dan jiwaku pada kesepian yang tertepi.
Maka sapalah aku dengan kelembutan dan keindahan kata-kata Cinta, tak pernah kupunya.
Sesungguhnya itu meringankan beban pundakku.”
Jiwa Yang Menyesal

Dua jiwa pencinta saling bertatap tanpa ucap, hanya hati berbicara dengan keterasingan kata-kata. Senja berlalu, malam terjelang dan tikar alampun mulai digelar.

***

Posted in saran | 3 Komentar

HADIR DAN MENGALIR


Cerpen Soeprijadi Tomodihardjo

Pesan itu memang mengesan. Tertulis di halaman dua buku milik sahabatku HS. Sangat ringkas, padat, puitis. Mengingatkan aku pada haiku. Agak lebih panjang ketimbang „Hong!“, haiku terpendek dalam perpuisian Jepang yang pernah kubaca. Tapi bunyi pesan itu bagiku lebih mengesan: …..’Hadir dan mengalir!’. Tak mengherankan, teks itu memang ditulis oleh R, seorang penyair kondang yang memberikan buku itu kepada sahabatku, bertandatangan 1988.

Lebih setahun buku itu menghuni deret tersendiri dalam rak buku di kamar sahabatku. Tak dibacanya. Tak disentuhnya. Bukan karena dia malas membaca. Justru sebaliknya. Dia sedang tekun membaca IBUNDA, novel Gorki, pengarang yang dikenalnya sebagai ‘hati-nurani Rusia’. Sehebat Lenin yang disebutnya ‘otak revolusi Rusia’. Begitu kagum dia membaca IBUNDA hingga beberapa buku karangan Gorki dia beli. Akibatnya dia kehilangan selera buat membaca buku pemberian R itu.

Pada hari Sabtu sahabatku biasa ngeluyur ke mana saja, tapi hari itu dia terpaksa tinggal di rumah karena hujan hampir seharian mengurungnya di kamar. IBUNDA baru saja selesai dibacanya. Waktu mengembalikan buku itu ke tempat semula, sahabatku melihat buku-buku di rak terserak-serak dan dia bermaksud menatanya kembali. Ketika itulah matanya menatap judul buku yang sekian lama dilupakannya: BENDUNGAN. Dengan penuh minat buku itu diambilnya dan dia melihat kembali gambar seorang pengarang wanita sebesar halaman kulit belakang. Namanya dia tak lupa, tapi wajah itu tak dikenalnya lagi sesudah tigapuluh tahun berpisah. Ditelitinya biodata si pengarang. Itulah gadis yang dulu pernah dikenalnya. Begitu banyak sudah buku-bukunya diterbitkan, di antaranya novel BENDUNGAN. Seketika muncul tandatanya dalam hati sahabatku, mengapa R justru memilih buku itu untuknya dan menuliskan pesan….’Hadir dan mengalir!’…. Mengapa pula bukan buku karangannya sendiri yang dia berikan, padahal dia punya sejumlah karya yang sudah diterbitkan. Berbagai dugaan lantas muncul dalam hati sahabatku. Dia merasa harus segera membacanya. Sebab hanya dari isi cerita BENDUNGAN barangkali jawaban itu akan dia temukan.

Seperti perilaku kebanyakan kutu buku, hari itu dia mulai membaca dan terus membaca sampai lupa menata kembali buku-buku yang terserak di atas rak. Sepanjang Sabtu siang itu dia tinggal di rumah saja, meski di tengah hari hujan telah lama reda. BENDUNGAN agaknya memang mencengkam. Sampai malam dia asyik membaca dan berkali-kali terganggu kenangan ketika ketemu seorang gadis, waktu itu baru calon pengarang, bersimpangan di halaman sebuah gedung tempat sarasehan para sastrawan. Sahabatku menyapa, tapi gadis itu menjawab dengan muka kecut, bilang mau balik ke Magelang, padahal sarasehan belum lagi dimulai. Sahabatku spontan bertanya mengapa, tapi gadis itu cepat-cepat meninggalkan halaman, memanggil sebuah becak yang melintas di jalan.

Kejadian itu dia adukan kepada R. Jawab penyair itu: “Biar saja dia pulang. Belum nikah sudah jadi pemarah.” Sebuah jawaban yang memancing dugaan demi dugaan yang bermunculan dalam benak sahabatku: gadis itu cemburu, gadis itu kecewa, gadis itu hatinya luka. Sahabatku memang baru saja ketemu R bergandeng tangan dengan anak gadis seorang pejabat tinggi PDK, padahal di Yogya telah lama tersiar berita tentang hubungan mesra antara R dan si gadis dari Magelang: seorang yang selalu mengagumi sajak-sajaknya.

Peristiwa itu terjadi seperempat abad yang lewat. Kini R telah lebih dewasa. Juga si gadis dari Magelang. Masing-masing kawin dengan orang lain. Masing-masing telah membina keluarga. Dan berkembang sebagai pengarang. Tentu saja sahabatku juga berkembang, tapi lebih sebagai orang buangan ketimbang sebagai pengarang. Risiko sebuah keyakinan yang dia pertahankan hingga sekarang. Namun dia tak kehilangan minat untuk mencipta dan membaca karya sastra. R sendiri tentu tahu akan hal itu, tapi pasti bukan satu-satunya sebab mengapa dia memberi sahabatku novel BENDUNGAN itu. “Ada baiknya kaubaca,” katanya.

Minggu esokharinya pagi-pagi sahabatku melanjutkan membaca buku terkutuk itu sambil duduk di kloset. Begitu asyik dia mengikuti jalan ceritanya hingga lupa bahwa isi perut yang semula menuntut pembebasannya sudah menunggu hempasan air yang akan menghanyutkannya ke bawah sana. Cerita itu bukan cuma mengejutkan tapi juga melukai uluhati sahabatku. Hampir tiap halaman memuat caci-maki sang pengarang bukan saja terhadap kudeta, tapi juga terhadap paman dan suaminya sendiri yang tak diduganya ternyata kader PKI: lelaki yang sangat setia pada partainya. Begitu setia hingga tega menghianati negara. Tega pula membiarkan anak-istrinya hidup sengsara. Tapi menurut sahabatku, novel itu tak lebih dari karya pesanan, bahan mentahnya disediakan orang atasan, sedang si pengarang tinggal menggarapnya sesuai dengan pesanan. Tak ada sangkut-pautnya dengan sastra.

Sedianya aku bermaksud meminjamnya ketika singgah ke rumah sahabatku. “Ambil saja buku terkutuk itu,” kata sahabatku ketika kupamiti. “Suruh baca istrimu. Tipikal karya kaliber Orba. Mengumpat tapi salah alamat. Harusnya malu, dosa Orba kini dibongkar dan dihujat.”

Aku lantas berpikir, makna apa pula yang tersirat dalam ‘Hadir dan mengalir!’ Sedang sahabatku sudah selalu hadir, sudah pula selalu mengalir. Di kancahnya sendiri. Di arahnya sendiri.**

Posted in saran | Tinggalkan komentar

Karena Cinta


Cerpen Seruni


Malam ini, kali kesekian kucumbui bayang. Yach, hanya sebentuk bayang. Bayang lelaki yang tak jelas, siapa dan di mana. Yang kutahu sejak bertemu di selongsong mimpi. Ia banyak mengajariku ‘cara berdusta’ pada ibu, bapak juga adik semata wayangku.

Ach … entah. Tapi begitulah


Dengan tanpa kusadari senantiasa kupanggili namanya berulangkali, setiap kali. Kutunggu dia di ujung jalan sekedar berharap dia bersedia ‘memetikkan sebuah bintang’. Tapi, dia tak kunjung datang. Dan orang-orang pada ribut menyebutku ‘hilang ingatan’.

Posted in saran | Tinggalkan komentar

Ketika Kasih Harus Memilih


Cerpen Gus ts Why

Sekarang Onoy tidak lagi berdiri di antara karang pantai Krakal, Yogyakarta. Ia sedang berada di antara batu-batu pantai Sanlochu, Sungailiat, yang terus-menerus diterjang amukan air laut dan terpaan angin.

Sekarang, di pantai Sanlochu ini ia tidak tengah berduaan dengan Retnoningsih, gadis Jawa yang begitu lekat dengan segala perilaku kejawaannya. Ia tengah berduaan dengan Rosalia, gadis Pangkalpinang yang belum lama ini dekat dengannya.

“Apakah Bang Noy masih sulit melepaskan bayang-bayang gadis Jawa itu?” tanya Rosalia sewaktu Onoy usai berkisah tentang serpihan-serpihan masa lalunya.

Onoy tidak menyahut. Ia hanya melempar-lemparkan kerikil di antara karang.

“Bang, ini bukan Krakal atau Parangtritis. Ini Sanlochu. Ini bukan Jawa. Ini Bangka. Ini bukan Jogja. Ini Sungailiat.”

Jogja?

***

Setiap kata “Jogja” melintas di depannya atau singgah di telinganya, serta-merta mengingatkan Onoy pada Retnoningsih, gadis Jogja yang pernah dikenalnya ketika dia merantau ke Jawa. Letak rumah gadis itu tidak seberapa jauh dengan kontrakan Onoy. Jaraknya kira-kira satu setengah kilometer.

Cukup satu tahun hubungan mereka lumayan “dekat”. Dekat bukan saja lantaran letak rumah mereka. Dan, suatu malam Minggu terakhir kalinya, jam setengah delapan ia berkunjung ke rumah Retnoningsih. Waktu itu, seperti biasa, malam Minggu dan jam segitu Ningsih – panggilannya – masih asyik dengan keluarganya. Biasanya juga jam-jam segitu mereka sudah selesai makan malam. Jadi, kalau tidak di ruang keluarga, mungkin dia sedang mencuci perkakas makan tadi.

Kali itu Ningsih memang sedang menunggu Onoy sembari bersendagurau dengan keluarganya. Waktu Onoy mengetuk pintu rumahnya, dia-lah yang bangkit untuk membukakan pintu.

Ningsih, Ningsih, bisik batin Onoy. Di antara banyak gadis Jawa yang telah terpesona oleh trend gaya hidup konsumtif dan hedonis, kau masih tetap setia dengan suasana hangatnya keluarga Jawa-mu. Kau selalu bersahaja dengan pakaian yang tidak terimbas mode. Rambut sepanjang punggung kauikat rapi. Budi bahasamu santun. Ah, andai suatu saat kelak…

“O, Mas, to,” katanya dengan senyum pembuka yang termanis untuk malam ini. “Mau di teras saja, atau di dalam, Mas?”

“Lho, ya terserah Tuan rumah, maunya di mana,” jawab Onoy.

“Di teras saja, ya, kebetulan juga lampunya sudah diganti baru.”

Onoy mendongakkan kepala, melihat lampu teras. Ya, terang. Mungkin kemarin-kemarin putus.

“Tunggu sebentar, Mas, aku ambilkan minum dulu, ya.”

Onoy mengambil posisi duduk, Ningsih masuk ke dalam. Tak berapa lama Ningsih telah muncul kembali sembari membawa baki. Dibantunya Ningsih meletakkan bawaannya. Segelas sekoteng panas, sepiring bakpia, sepiring tape goreng, tahu isi, tempe bacem dan beberapa salak pondoh. Onoy menikmati segala pelayanan itu.

Ah, betapa lembut serta santun gadis Jawa satu ini, guman batin Onoy.

Namun di hari lainnya mulai tampak ketidakcocokkan mereka. Hanya gara-gara hal sepele. Misalnya tidak bisa memenuhi ajakan Onoy untuk menemani Onoy ke toko buku Social Agency membeli buku-buku baru yang sedang dibicarakan banyak kalangan sastrawan dan kelompok peduli masalah sosial-politik. Atau, selalu menolak setiap ada undangan diskusi, semisal bedah buku. Ningsih juga tidak menyukai acara-acara pentas sastra. Ningsih yang selalu menggugat apabila Onoy bergaul dekat dengan kawan-kawan perempuan, meskipun masih terhitung saudara sepupunya Ningsih sendiri. Sampai suatu kali Ningsih menuturkan bahwa orangtuanya tak bisa melepaskan Ningsih ke luar pulau Jawa lantaran Ningsih adalah anak bungsu dan kedua kakak laki-lakinya telah memiliki rumah masing-masing. Ningsih didaulat keluarganya untuk tetap berada di rumah mereka.

Dan sekarang…

Ah, sebenarnya tak sampai hati aku berkata jujur padanya, batin Onoy.

Terlalu berat bagi Onoy untuk memberitahukan rencana kepulangannya ke Bangka dalam rentang waktu yang tak terbatas. Entah kapan ada waktu untuk kembali ke Jawa. Karena Onoy ingin memulai penghidupan baru di kota kelahirannya.

Ningsih memang sudah memahami profesi Onoy. Tetapi perihal keinginan Onoy untuk membuka ladang kerja baru di Bangka, belum pernah Onoy mengungkapkannya. Sebab Ningsih pernah pula tidak memberi ijin ketika Onoy mengutarakan niatnya berliburan satu bulan ke Bangka.

Makanya, kalau kini benar-benar Onoy akan menetap di tempat asalnya, apakah Ningsih rela melepaskan kepergian Onoy? Apakah Onoy pun rela meninggalkannya? Berarti Onoy akan kehilangan pesona budaya adiluhung yang tersisa di antara simpang-
siur budaya gado-gado?

Tetapi budaya adiluhung dan kebutuhan perut sering tidak seiya-sekata. Sering
bertolak-belakang. Onoy tidak punya pilihan lain atas masa depannya sendiri, perutnya sendiri. Juga, cinta saja tak’kan sanggup mengenyangkan perut. Onoy harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, terutama karena dia laki-laki.
Dan soal budaya adiluhung yang masih terpancar dalam perilaku keseharian gadis Jawa ini, bukan berarti tinggal itu ahli waris tunggalnya. Onoy percaya di Bangka pun masih ada, mungkin masih bejibun. Semoga. Pasti.

Ah, Ningsih…Andai jarak Jawa-Bangka cuma sejauh Sungailiat-Pangkalpinang… Andai kau mau kuajak pindah ke Bangka…

Onoy tidak bisa menunggu lama. Bangka lebih menjanjikan harapan masa depan
baginya, meski hanya berpendidikan diploma tiga. Ditambah selembar bukti keterampilan berupa surat keterangan pengalaman kerja.

“Ningsih,” cuma itu yang awalnya meluncur dari lidah Onoy.

Ningsih membalas tatapan mata Onoy.

Rasa iba dan sayang begitu menggelayuti hati Onoy. Berat rasanya. Tetapi harus dikatakan. “Aku harus pulang, membangun masa depan di sana,” ujarnya.

Ningsih terkejut. Ningsih tidak menyangka.

Onoy bertambah iba. Tetapi ada kekuatan yang kembali membantu Onoy untuk berani memutuskan tindaklanjut hidupnya. Bukan perasaan. Bukan kebingungan. Bukan tanpa pernah bisa menentukan sikap terbaik. Keberanian untuk bersikap. Laki-laki harus punya sikap. Terlebih ikatan formal suatu komitmen sakral belum terjadi.

***

Keberanian itu pula yang akhirnya mengembalikan ia ke kampung kelahirannya, Sri Pemandang pucuk, yang ditinggalkannya selama belasan tahun. Kampung kecil yang terletak di sepanjang jalan dari luar Sungailiat menuju Pemali ini telah memberi aneka warna dan rasa dalam awal-awal hayatnya. Di kampung ini banyak kisah pembentukan dirinya yang tak habis dikupas dalam satu buku tebal.

Selama belasan tahun ia pergi, tak sekali pun ia pulang. Menjenguk sesaatpun tak dilakukan. Orang-orang kampung itu tahunya bahwa Onoy masih hidup. Itu saja. Sementara ia justru terombang-ambing oleh badai krisis jati diri, cinta, dan krisis moneter melanda dan meluluhlantakkan perekonomian masyarakat dan berimbas dengan pemutusan hubungan kerja.

Ya, Onoy mengalami masa-masa mengambang antara berstatus karyawan dan
tidak ada pekerjaan. Waktu itu bisnis properti tiba-tiba mati, proyek-proyek jadi peti mati. Dinding-dinding tak beratap mirip kuburan-kuburan usang. Harga-harga material menjulang melebihi ketinggian gedung-gedung jangkung mencakar langit. Banyak bank jadi bangkrut. Banyak konglomerat terjerat hutang beserta bunga-bunga hutang. Orang-orang kaya yang sebenarnya kaya hutang, sampai-sampai bisa menyelam di dalam kubangan kredit, akhirnya ditempeleng habis-habisan oleh badai krismon itu.

Onoy memang tidak terbelit kredit dan hutang trilyunan rupiah. Sebab Onoy cuma karyawan biasa. Cuma seorang buruh bangunan. Cuma seorang pekerja kontrakan untuk menggarap pembangunan perumahan kelas menengah-bawah (meski ternyata juga
dibeli oleh orang berduit banyak untuk investasi).

Lalu dia pindah ke Jawa, ke Jogja. Tidak untuk jadi pelajar atau pun pengajar. Kecuali untuk memulai penghidupan yang layak. Terlebih, ia menghindarkan diri dari wabah “busung lapar” di kota besar. Dan, di sanalah ia terlibat dalam sebuah kisah yang melibatkan hati dan rasa orang lain, yaitu seorang gadis Jawa bernama Retnoningsih itu.

***

Sekarang ia tengah dipandangi oleh Rosalia yang masih diliputi kepenasarannya.

“Bang, atas dasar apa Abang ingin mendekatiku?” tanya Rosalia. “Iseng-isengkah? Pengisi waktu-kah? Pelampiasan sebuah kenangan dan harapan yang terpenggal-kah?”

Onoy diam. Lalu ia memandang hamparan laut biru lapang.

“Apakah aku hanya hendak Abang jadikan jembatan penghubung antara masa lalu Abang dengan masa kini, bahkan mungkin sampai masa akan datang, masa ketika tenaga tinggal sepotong saja?”

Masa lalu? Tampaknya Onoy sedang mengolesi impiannya dengan susu dan madu cinta masa lalu. Cinta telah membuat Onoy hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuatnya selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi candu, membelenggu proses kreatifnya dan membuat kualitas dirinya mandul. Cinta yang membuat dirinya lupa daratan, yaitu lupa bahwa dia masih muda dan punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan dirinya.

Masa lalu tidak membuatnya maju seperti sekarang, yang menapakkan kakinya ke sebuah kantor yang cukup bonafid di kotanya. Masa-masa itu memang penuh pemasungan intelektual. Keberanian tidak ada, kecuali ketakutan dan kekhawatiran terhadap perasaan dan sikap orang lain. Perasaan itu begitu kuat membelit kapasitasnya sebagai laki-laki, dan kini masih terasa menjeratnya.

Onoy masih belum menyahut. Dalam hati ia hanya bisa berkata, “Maafkan aku,
Ros, sebab aku gagal mengenyahkan hantu masa lalu.”

“Apakah aku adalah wujud sebuah peribahasa ‘tak ada rotan, akar pun jadi’. Iya, Bang?”

Onoy tidak hendak menyahut, mengelak atau memberi pengertian. Yang tiba-tiba menyeruak dari kabut pikirannya justru ucapan seorang kawan, “Kalau kau sudah menguburkan sosok masa lalumu, biarkan dia tenteram di sana. Andai kau biarkan jiwamu berbalik mundur dan pikiranmu menggali kuburan itu, tinggal tunggu saatnya giliran kau yang akan terjerumus sendiri di situ. Sosok masa lalu itu bisa menjelma menjadi ulat yang siap memakan buah-buah kebaikanmu, bahkan cikal-bakal buah itu.”

“Bang!” tegur gadis itu. “Ini realita, Bang. Realita bahwa sekarang Abang ada di Bangka, saat ini sedang bersama aku di Sungailiat, di pantai Sanlochu. Bukankah kita hidup di masa sekarang dan akan menuju masa depan?”

Onoy tidak sanggup bicara apa-apa. Rosalia semakin tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Onoy, kecuali ia merasa Onoy tidak menyimak. Ia merasa Onoy tidak menghargai keberadaannya saat itu. Betapa sedih hatinya.

“Bang, di dekat Abang adalah aku, bukan masa lalu, bukan gadis Jawa itu. Abang harus realistis. Cobalah Abang pikir lagi,” tandas Rosalia yang kecewa. Lantas ia segera meninggalkan Onoy seorang diri di atas batu karang yang digempur ombak. Ia tidak bisa berlama-lama dalam kebisuan sosok pria ini. Ia harus realistis; jika memang tak ada tanggapan lagi, tak ada guna ia mempertahankan hubungan mereka. Apa boleh buat.

Realistis? Berpikir realistis? Relevansi dan kontekstual? Onoy mengernyitkan dahi. Tapi kenapa hantu masa lalu itu tak jua sudi menjauh dan berlalu.

Onoy tersentak. Ia merasa tiba-tiba tergugah dari tidur panjang dalam dekapan masa lalu. Bukankah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap meneruskan perjalanannya ke depan? Bukankah ia telah berani meninggalkan masa lalu demi tujuan baru. Toh gerbang menuju jenjang kemantapan karier sudah sekian tapak dilaluinya. Bukankah watak dan kesantunan adalah ungkapan jiwa yang bersenyawa dengan hati nurani, bukan semata-mata hasil ciptaan suatu adat-budaya sukua atau daerah tertentu?

Ah, alangkah dungunya aku! Onoy mendesah setelah menyadari sesuatu. Segera ia bangkit. Ia harus mengatakan sesuatu pada Rosalia. Kemudian ia melihat sekelilingnya tanpa menoleh ke arah Rosalia.

“Kau benar, Ros. Aku memang tidak realistis. Tubuhku ada di sini, tapi jiwaku masih saja mengembara di masa lalu, menikmati cumbuan-cumbuan semu masa silam.”

Namun Rosalia tidak ada lagi di situ. Suara manusia lainnya pun tak terdengar. Kecuali resah angin pantai yang mengipasi rasa bersalah dalam diri Onoy.

*******
babarsariyogya, 2002

Posted in saran | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in saran | 1 Komentar