Doa Yang Dikabulkan


Cerpen Veldy Umbas

”Tuhan itu tidak ada, Nduk. Cari di kolong- kolong meja di mana tulang belulang berserakan. Di parit-parit para bayi tak lahir bergelimpangan, di sudut- sudut lorong pun manusia terkapar tak bernyawa. Percuma, Nduk. Tuhan tak bisa menolongmu menyelamatkan dunia.”

“Tapi aku akan menjadi pendamai dunia,” si Nduk bercita- cita.

“Bodoh. Marx dan Sukarno pernah punya cita-cita serupa. Yesus sudah datang untuk itu. Yitzak Rabin malah ditembak mati. Osama Bin Laden telah memulainya, dan Muhammad menjadi inspirasi jutaan pendamai itu. Kau bisa digotong pemuda kampung dan di masukan ke lembah pembuangan sampah. Ide seperti itu sampah.”

“Perjuangan mereka harus ada yang meneruskan. Manusia boleh mati, tapi ide hidup terus,” si Nduk lagi bela-belain.

Ah kau tau apa, Nduk. Siapa yang kau bela. Yang dibela pun tak mau. Ini koran tadi pagi. Dua mayat lagi di temukan tanpa kepala. Kemarin tanpa tangan. Minggu lalu tanpa anus dan buah pelernya. Suatu pembenaran yang sangat menyudutkan si Nduk.
Itu yang tradisionil. Kemarin senjata tentara telah memusnakan penduduk sipil di Aceh. Kemarinnya lagi, baku tembak polisi dan tentara. Lusa kau akan lihat rakyat saling bunuh atas segelas air dan roti.

Kakek tua itu tentu punya alasan yang lebih dari berita-berita sampah di koran
pagi itu. Tapi si Nduk maklum atas pendirian ideologi yang pernah bahkan masih
dianutnya walau sedikit menolak bila di tanya petugas kelurahan.

“Tapi harus ada yang menghentikannya. Kita diciptakan sebagai makhluk mulia.”

“Kau ini. Sudah kubilang Tuhan itu tidak ada. Yang ciptakan Tuhan, ya kita sendiri. Apa peduli Tuhan dengan manusia. Toh dia tetap saja egois. Harus ini-itu. Jangan ini-itu. Untuk ini-itu. Nenek bengekmu pun tak diurusinya. Eh, manusia sok-sokan mewakili Tuhan. Perintah-Nya ini-itu. Keinginan-Nya ini-itu. Lalu yang jadi penghuni Surga Cuma dia orang. Kita dibuang ke neraka. Siapa pernah ke sana, Nduk. Itu bualan pinggir got, Nduk.”

Si Nduk tertunduk. Kakek keras kepala. Keparat. Atheis tahi kucing. Pikirannya cuma dirinya sendiri. Tidak mau memikirkan orang lain.

“Siapa yang kau pikirkan, Nduk?” kakek balas bertanya.

”Ya umat manusia. Ya, demi kita semua.”

“Tuhan sudah tidak waras bila Dia bersedia kau menggantikan posisi-Nya. Sudahlah, jangan kau jadi juru selamat lagi.”

“Harus ada jalan. Manusia tidak boleh begini terus.”

“Lalu kau mau apa?” tanya Kakek disusul batuk-batuk. Huk huk huk…

Kakek mati aja kenapa sih. Egois, tapi ndak mati-mati.

“Kubunuh aja kau ya, Kek.” Si Nduk bergegas mengambil pisau.

“Kau pasti bercanda, Nduk. Aku ‘kan kakekmu. Aku yang menyebabkan kau ada. Aku menikahi Sri Ningsih binti Komcis. Melahirkan Domong bin Manuttowojo. Nah Domong menikahi Sudallista bin Siti dan melahirkan kau, Ronggo Bromo Bajingan tengik tahi kuda. Mau bunuh eyangmu sendiri. Yang telah meyebabkan kehidupan dan nafasmu yang sekarang kau hisap dan keluar. Sialan.”

“Tarik nafas dalam-dalam sambil tutup mata. Dua kali, hitungan ketiga, pisau ini sudah menembus lambung,” teriak si Nduk.

”Jangan, Nduk. Tolong. Jangan. Hormatilah orang tua. Berbaktilah kau anak jahanam. Bahkan neraka tidak akan menerimamu. Kau mau ke mana kalau membunuh kakekmu sendiri?”

”Lha. Kan kakek sendiri yang bilang tidak ada neraka dan tidak ada surga.”

Diangkatnya tinggi-tinggi tangan ditopang lengan dan menghujam menikam lambung. Cruuettt! Darah segar berserakan di mana- mana, di sana sini, di dinding, di lantai, di badannya.

Si Nduk tertunduk lesuh. Ah, atheis, beragama, beriman, bertuhan, sama saja.

Dibasuh tangannya yang penuh darah dan berharap dia tak berdosa kepada Tuhan.

“Toh saya membunuhnya atas nama Tuhan.”

Di pandanginya jeruji besi yang kokoh menghalangi dia untuk lari. Kamar 3×4, lantai dingin, tempat tidur tak berkasur. Selimut kumal, gelas mangkok, sendal jepit. Semua menjadi harta benda sejak divonis penjara 20 tahun yang lalu. Di dinding masih terpampang penanggalan tahun sekarang, 2002. Besok si Nduk habis menjalani masa hukuman.

Tak ada keluarga yang akan dikunjungi setelah masa tahanan habis. Tak ada peluk mesra atas kerinduan yang dalam. Keluarganya satu demi satu di makan kebengisan zaman. Ya, di Maluku, Poso atas konflik harizontal. Ya peristiwa Mei, 27 Juli, Trisakti. Ya pembantaian pasca 30 september. Ya ini itu penghianatan kemanusiaan.

Si Nduk berdoa, “Tuhan, jangan biarkan aku bertemu dengan orang- orang seperti kakekku, kalau tidak aku akan kembali lagi ke sini.”

Sebulan kemudian. Di sudut kamar yang kosong, kecuali selimut kumal, gelas mangkok, sendal jepit, lantai dingin, tempat tidur tak berkasur, dan seorang renta terkapar lemas di ranjang tak berkasur.

“Kau,” bentak si sipir.

Tapi dia tak bangun. Sipir mengecek, rupanya dia sudah meninggal. Dia baru masuk seminggu yang lalu karena divonis membunuh.

***

Seoul 17 sept 2002

Tentang unhyecaem

sakit hati quw buach , . , !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
This entry was posted in saran. Bookmark the permalink.

2 Responses to Doa Yang Dikabulkan

  1. ronisetiawan says:

    mama dede terlalu panjang doanyaaaaaaaaa!!!!!!

  2. knpa tuhan hrs dicari dikolong meja…………………………………….?????????????????

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s