HADIR DAN MENGALIR


Cerpen Soeprijadi Tomodihardjo

Pesan itu memang mengesan. Tertulis di halaman dua buku milik sahabatku HS. Sangat ringkas, padat, puitis. Mengingatkan aku pada haiku. Agak lebih panjang ketimbang „Hong!“, haiku terpendek dalam perpuisian Jepang yang pernah kubaca. Tapi bunyi pesan itu bagiku lebih mengesan: …..’Hadir dan mengalir!’. Tak mengherankan, teks itu memang ditulis oleh R, seorang penyair kondang yang memberikan buku itu kepada sahabatku, bertandatangan 1988.

Lebih setahun buku itu menghuni deret tersendiri dalam rak buku di kamar sahabatku. Tak dibacanya. Tak disentuhnya. Bukan karena dia malas membaca. Justru sebaliknya. Dia sedang tekun membaca IBUNDA, novel Gorki, pengarang yang dikenalnya sebagai ‘hati-nurani Rusia’. Sehebat Lenin yang disebutnya ‘otak revolusi Rusia’. Begitu kagum dia membaca IBUNDA hingga beberapa buku karangan Gorki dia beli. Akibatnya dia kehilangan selera buat membaca buku pemberian R itu.

Pada hari Sabtu sahabatku biasa ngeluyur ke mana saja, tapi hari itu dia terpaksa tinggal di rumah karena hujan hampir seharian mengurungnya di kamar. IBUNDA baru saja selesai dibacanya. Waktu mengembalikan buku itu ke tempat semula, sahabatku melihat buku-buku di rak terserak-serak dan dia bermaksud menatanya kembali. Ketika itulah matanya menatap judul buku yang sekian lama dilupakannya: BENDUNGAN. Dengan penuh minat buku itu diambilnya dan dia melihat kembali gambar seorang pengarang wanita sebesar halaman kulit belakang. Namanya dia tak lupa, tapi wajah itu tak dikenalnya lagi sesudah tigapuluh tahun berpisah. Ditelitinya biodata si pengarang. Itulah gadis yang dulu pernah dikenalnya. Begitu banyak sudah buku-bukunya diterbitkan, di antaranya novel BENDUNGAN. Seketika muncul tandatanya dalam hati sahabatku, mengapa R justru memilih buku itu untuknya dan menuliskan pesan….’Hadir dan mengalir!’…. Mengapa pula bukan buku karangannya sendiri yang dia berikan, padahal dia punya sejumlah karya yang sudah diterbitkan. Berbagai dugaan lantas muncul dalam hati sahabatku. Dia merasa harus segera membacanya. Sebab hanya dari isi cerita BENDUNGAN barangkali jawaban itu akan dia temukan.

Seperti perilaku kebanyakan kutu buku, hari itu dia mulai membaca dan terus membaca sampai lupa menata kembali buku-buku yang terserak di atas rak. Sepanjang Sabtu siang itu dia tinggal di rumah saja, meski di tengah hari hujan telah lama reda. BENDUNGAN agaknya memang mencengkam. Sampai malam dia asyik membaca dan berkali-kali terganggu kenangan ketika ketemu seorang gadis, waktu itu baru calon pengarang, bersimpangan di halaman sebuah gedung tempat sarasehan para sastrawan. Sahabatku menyapa, tapi gadis itu menjawab dengan muka kecut, bilang mau balik ke Magelang, padahal sarasehan belum lagi dimulai. Sahabatku spontan bertanya mengapa, tapi gadis itu cepat-cepat meninggalkan halaman, memanggil sebuah becak yang melintas di jalan.

Kejadian itu dia adukan kepada R. Jawab penyair itu: “Biar saja dia pulang. Belum nikah sudah jadi pemarah.” Sebuah jawaban yang memancing dugaan demi dugaan yang bermunculan dalam benak sahabatku: gadis itu cemburu, gadis itu kecewa, gadis itu hatinya luka. Sahabatku memang baru saja ketemu R bergandeng tangan dengan anak gadis seorang pejabat tinggi PDK, padahal di Yogya telah lama tersiar berita tentang hubungan mesra antara R dan si gadis dari Magelang: seorang yang selalu mengagumi sajak-sajaknya.

Peristiwa itu terjadi seperempat abad yang lewat. Kini R telah lebih dewasa. Juga si gadis dari Magelang. Masing-masing kawin dengan orang lain. Masing-masing telah membina keluarga. Dan berkembang sebagai pengarang. Tentu saja sahabatku juga berkembang, tapi lebih sebagai orang buangan ketimbang sebagai pengarang. Risiko sebuah keyakinan yang dia pertahankan hingga sekarang. Namun dia tak kehilangan minat untuk mencipta dan membaca karya sastra. R sendiri tentu tahu akan hal itu, tapi pasti bukan satu-satunya sebab mengapa dia memberi sahabatku novel BENDUNGAN itu. “Ada baiknya kaubaca,” katanya.

Minggu esokharinya pagi-pagi sahabatku melanjutkan membaca buku terkutuk itu sambil duduk di kloset. Begitu asyik dia mengikuti jalan ceritanya hingga lupa bahwa isi perut yang semula menuntut pembebasannya sudah menunggu hempasan air yang akan menghanyutkannya ke bawah sana. Cerita itu bukan cuma mengejutkan tapi juga melukai uluhati sahabatku. Hampir tiap halaman memuat caci-maki sang pengarang bukan saja terhadap kudeta, tapi juga terhadap paman dan suaminya sendiri yang tak diduganya ternyata kader PKI: lelaki yang sangat setia pada partainya. Begitu setia hingga tega menghianati negara. Tega pula membiarkan anak-istrinya hidup sengsara. Tapi menurut sahabatku, novel itu tak lebih dari karya pesanan, bahan mentahnya disediakan orang atasan, sedang si pengarang tinggal menggarapnya sesuai dengan pesanan. Tak ada sangkut-pautnya dengan sastra.

Sedianya aku bermaksud meminjamnya ketika singgah ke rumah sahabatku. “Ambil saja buku terkutuk itu,” kata sahabatku ketika kupamiti. “Suruh baca istrimu. Tipikal karya kaliber Orba. Mengumpat tapi salah alamat. Harusnya malu, dosa Orba kini dibongkar dan dihujat.”

Aku lantas berpikir, makna apa pula yang tersirat dalam ‘Hadir dan mengalir!’ Sedang sahabatku sudah selalu hadir, sudah pula selalu mengalir. Di kancahnya sendiri. Di arahnya sendiri.**

Tentang unhyecaem

sakit hati quw buach , . , !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
This entry was posted in saran. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s