Cerpen Arwan
Keringat yang berbisik lirih menyampaikan pesan raga tentang kelelahan yang datang menghimpit. Setiap tetes yang membasahi jubah lusuhnya kembali menyusu pada pori-pori. Jelas pandangan matanya menangkap bangunan penuh ramai orang-orang melepaskan lapar dan dahaga. Pandangan asing menerpa wajahnya yang penuh dengan debu jalanan.
“Warung makan ini begitu ramai oleh kecap kelaparan, hingga kehadiranku yang tak diundang mengundang keanehan,” Prawira Aji berbicara dalam hatinya sementara matanya menyapu ruangan mencari tempat yang masih kosong, tak ada.
“Kisanak yang berjubah biru, bergabunglah denganku,” terdengar suara bersahabat dan Prawira Aji merasakan pundaknya ditepuk lembut seseorang. Ragu mendahului langkahnya kemudian berangsur mundur meninggakan ketenangan.
“Terimakasih, Kisanak. Siapakah Kisanak yang berbudi embun ini, yang memberikan altar sejuk bagi tubuh lelahku.”
“Namaku Gading. Siapakah nama Kisanak yang bertutur sepoi ini, hingga membuat kulit tubuhku menghangat.”
“Namaku Prawira Aji. Hendak kemanakah tujuan Kisanak?”
“Aku seorang pengembara tanpa tuju, aku telah berjalan jauh naik dan turun gunung mencari jiwa Pencinta, naluriku berkata bahwa Kisanak ini adalah orangnya.”
“Anda pandai bermain kata, Kisanak, saya juga seorang pengembara seperti Kisanak, yang masih mencari arti cinta.”
Dua jiwa pencinta bertemu dalam satu altar Cinta, duduk berhadapan saling berbagi cerita perjalanan. Jiwa Gading adalah pencinta keindahan cinta karena manis kata-katanya, sementara jiwa Prawira Aji adalah pencinta keindahan cinta dari kepedihan dan kegetirannya, keindahan luka dan duka, kenikmatan nestapa dan nelangsa.
Mereka berdua beriringan memijak jalan yang sama namun Gading melangkah di sisi kanan sedangkan Prawira Aji disisi kiri. Menuju satu gerbang yang sama, minum air dari telaga yang sama pula. Perbedaan hanya pada akhir pemahaman mereka.
“Aji Saudaraku,… pada suatu masa yang telah terlewati, jiwaku terantuk tiang rindu,… kemudian aku tersungkur tak berdaya di atas pangkuan kekasih, anganku membawanya ke nirwana Cinta, memakan buah-buah cinta saat senja memeluk jingga’. Jiwaku memadatkan keindahan yang menghambur menyelimuti ruang dan waktu”.
“Gading Saudaraku,… selembar lontar pernah kutuliskan tentang keindahan cinta, Cinta membuat kita mampu mengelana jauh tinggi menghampiri bintang-bintang dilangit juga menyelami kedalaman samudera airmata, karena di situ akan kita temukan bintang-bintangpun berkerlipan didasar samudera, seperti kerlip kejora mata sang kekasih. Keindahan Cinta tak mengenal gurita dan ikan hiu, Samudera Cinta hanya ada Ikan Emas, Ikan perak dan Ikan Mutiara, dan tahukah kamu saudaraku, bahwa tidak semua samudera menyimpan Mutiara di dalamnya.”
“Aji Saudaraku,… Dalam Keindahan Cinta kita rangkai buaian Cinta nan syahdu haru merayu, hingga cahaya rembulan terpinggir dan ketinggian singgasana bintang terlampaui. Keindahan Cinta membuat kita mampu terbang dan melayang dengan sayap-sayap harapan kelangit hakikat yang teramat biru.”
Dalam perjalanan tak membosankan walau tak terasa bermil-mil terlangkahi, namun kaki tak jua ingin mencari perebah.
Matahari memandang semakin sayu membuyarkan bayangan dua pasang kaki tertutup jubah usang ditiup angin perjalanan. Langkah semakin perlahan ditekan perbincangan tentang kelelahan yang melengketkan bibir-bibir pencinta. Kata-kata yang terucap adalah sisa-sisa ungkapan pada alam. Senyum yang tersungging adalah bias hati yang penasaran. Dengan sapa selembut belaian angin malam Gading menyentuh ujung daun pohon kesepian yang tumbuh rindang di pinggir jalan setapak jauh dari hutan belantara Cinta. Dedauannya bergoyang mengangguk gemerisiknya menyapa telinga hati mengikis lelah. Tubuh-tubuh kelelahan bersandar di batang halus karena punggung-punggung penyapa alam. Guratan-guratan serupa bait puisi menghias tiap dahan dan rantingnya. Dan di akarnya yang banyak menonjol terdapat akar yang besar berbekas guratan memerah darah. Tertulis bait pendahulu bagi jiwa yang menyusul terbubuh sebaris nama aneh namun mengundang detak keingintahuan.
“Setiap hariku adalah pengkhianatan terhadap nurani, ucapku adalah pengingkaran terhadap ayat Illahi, gerak tubuhku adalah bayangan Setan yang menjelma, dalam darahku mengalir darah serigala, bukan dari moyangku perjalananku adalah perjalanan menuju neraka, jangan ikuti alurnya. Dan di tanah ini kulabuhkan tubuh dan jiwaku pada kesepian yang tertepi. Maka sapalah aku dengan kelembutan dan keindahan kata-kata Cinta, tak pernah kupunya. Sesungguhnya itu meringankan beban pundakku.” Jiwa Yang Menyesal
Dua jiwa pencinta saling bertatap tanpa ucap, hanya hati berbicara dengan keterasingan kata-kata. Senja berlalu, malam terjelang dan tikar alampun mulai digelar.
***
kEnapa dengan Jiwa mu yang menyesal……………………….?????????????????????
terlalu chayank ma dia
waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa cerp3333333333333333333n nyaaaaaaaaaaaaaaa goooooooooooooooooddddd?????????????
Fill in your details below or click an icon to log in:
You are commenting using your WordPress.com account. ( Log Out / Ubah )
You are commenting using your Twitter account. ( Log Out / Ubah )
You are commenting using your Facebook account. ( Log Out / Ubah )
Connecting to %s
Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.
Get every new post delivered to your Inbox.
kEnapa dengan Jiwa mu yang menyesal……………………….?????????????????????
terlalu chayank ma dia
waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa cerp3333333333333333333n nyaaaaaaaaaaaaaaa goooooooooooooooooddddd?????????????