Onoy tidak menyahut. Ia hanya melempar-lemparkan kerikil di antara karang.
“Lho, ya terserah Tuan rumah, maunya di mana,” jawab Onoy.
“Di teras saja, ya, kebetulan juga lampunya sudah diganti baru.”
Onoy mendongakkan kepala, melihat lampu teras. Ya, terang. Mungkin kemarin-kemarin putus.
“Tunggu sebentar, Mas, aku ambilkan minum dulu, ya.”
Ah, betapa lembut serta santun gadis Jawa satu ini, guman batin Onoy.
Ah, sebenarnya tak sampai hati aku berkata jujur padanya, batin Onoy.
“Ningsih,” cuma itu yang awalnya meluncur dari lidah Onoy.
Ningsih membalas tatapan mata Onoy.
Ningsih terkejut. Ningsih tidak menyangka.
Sekarang ia tengah dipandangi oleh Rosalia yang masih diliputi kepenasarannya.
Onoy diam. Lalu ia memandang hamparan laut biru lapang.
“Apakah aku adalah wujud sebuah peribahasa ‘tak ada rotan, akar pun jadi’. Iya, Bang?”