Ketika Kasih Harus Memilih


Cerpen Gus ts Why

Sekarang Onoy tidak lagi berdiri di antara karang pantai Krakal, Yogyakarta. Ia sedang berada di antara batu-batu pantai Sanlochu, Sungailiat, yang terus-menerus diterjang amukan air laut dan terpaan angin.

Sekarang, di pantai Sanlochu ini ia tidak tengah berduaan dengan Retnoningsih, gadis Jawa yang begitu lekat dengan segala perilaku kejawaannya. Ia tengah berduaan dengan Rosalia, gadis Pangkalpinang yang belum lama ini dekat dengannya.

“Apakah Bang Noy masih sulit melepaskan bayang-bayang gadis Jawa itu?” tanya Rosalia sewaktu Onoy usai berkisah tentang serpihan-serpihan masa lalunya.

Onoy tidak menyahut. Ia hanya melempar-lemparkan kerikil di antara karang.

“Bang, ini bukan Krakal atau Parangtritis. Ini Sanlochu. Ini bukan Jawa. Ini Bangka. Ini bukan Jogja. Ini Sungailiat.”

Jogja?

***

Setiap kata “Jogja” melintas di depannya atau singgah di telinganya, serta-merta mengingatkan Onoy pada Retnoningsih, gadis Jogja yang pernah dikenalnya ketika dia merantau ke Jawa. Letak rumah gadis itu tidak seberapa jauh dengan kontrakan Onoy. Jaraknya kira-kira satu setengah kilometer.

Cukup satu tahun hubungan mereka lumayan “dekat”. Dekat bukan saja lantaran letak rumah mereka. Dan, suatu malam Minggu terakhir kalinya, jam setengah delapan ia berkunjung ke rumah Retnoningsih. Waktu itu, seperti biasa, malam Minggu dan jam segitu Ningsih – panggilannya – masih asyik dengan keluarganya. Biasanya juga jam-jam segitu mereka sudah selesai makan malam. Jadi, kalau tidak di ruang keluarga, mungkin dia sedang mencuci perkakas makan tadi.

Kali itu Ningsih memang sedang menunggu Onoy sembari bersendagurau dengan keluarganya. Waktu Onoy mengetuk pintu rumahnya, dia-lah yang bangkit untuk membukakan pintu.

Ningsih, Ningsih, bisik batin Onoy. Di antara banyak gadis Jawa yang telah terpesona oleh trend gaya hidup konsumtif dan hedonis, kau masih tetap setia dengan suasana hangatnya keluarga Jawa-mu. Kau selalu bersahaja dengan pakaian yang tidak terimbas mode. Rambut sepanjang punggung kauikat rapi. Budi bahasamu santun. Ah, andai suatu saat kelak…

“O, Mas, to,” katanya dengan senyum pembuka yang termanis untuk malam ini. “Mau di teras saja, atau di dalam, Mas?”

“Lho, ya terserah Tuan rumah, maunya di mana,” jawab Onoy.

“Di teras saja, ya, kebetulan juga lampunya sudah diganti baru.”

Onoy mendongakkan kepala, melihat lampu teras. Ya, terang. Mungkin kemarin-kemarin putus.

“Tunggu sebentar, Mas, aku ambilkan minum dulu, ya.”

Onoy mengambil posisi duduk, Ningsih masuk ke dalam. Tak berapa lama Ningsih telah muncul kembali sembari membawa baki. Dibantunya Ningsih meletakkan bawaannya. Segelas sekoteng panas, sepiring bakpia, sepiring tape goreng, tahu isi, tempe bacem dan beberapa salak pondoh. Onoy menikmati segala pelayanan itu.

Ah, betapa lembut serta santun gadis Jawa satu ini, guman batin Onoy.

Namun di hari lainnya mulai tampak ketidakcocokkan mereka. Hanya gara-gara hal sepele. Misalnya tidak bisa memenuhi ajakan Onoy untuk menemani Onoy ke toko buku Social Agency membeli buku-buku baru yang sedang dibicarakan banyak kalangan sastrawan dan kelompok peduli masalah sosial-politik. Atau, selalu menolak setiap ada undangan diskusi, semisal bedah buku. Ningsih juga tidak menyukai acara-acara pentas sastra. Ningsih yang selalu menggugat apabila Onoy bergaul dekat dengan kawan-kawan perempuan, meskipun masih terhitung saudara sepupunya Ningsih sendiri. Sampai suatu kali Ningsih menuturkan bahwa orangtuanya tak bisa melepaskan Ningsih ke luar pulau Jawa lantaran Ningsih adalah anak bungsu dan kedua kakak laki-lakinya telah memiliki rumah masing-masing. Ningsih didaulat keluarganya untuk tetap berada di rumah mereka.

Dan sekarang…

Ah, sebenarnya tak sampai hati aku berkata jujur padanya, batin Onoy.

Terlalu berat bagi Onoy untuk memberitahukan rencana kepulangannya ke Bangka dalam rentang waktu yang tak terbatas. Entah kapan ada waktu untuk kembali ke Jawa. Karena Onoy ingin memulai penghidupan baru di kota kelahirannya.

Ningsih memang sudah memahami profesi Onoy. Tetapi perihal keinginan Onoy untuk membuka ladang kerja baru di Bangka, belum pernah Onoy mengungkapkannya. Sebab Ningsih pernah pula tidak memberi ijin ketika Onoy mengutarakan niatnya berliburan satu bulan ke Bangka.

Makanya, kalau kini benar-benar Onoy akan menetap di tempat asalnya, apakah Ningsih rela melepaskan kepergian Onoy? Apakah Onoy pun rela meninggalkannya? Berarti Onoy akan kehilangan pesona budaya adiluhung yang tersisa di antara simpang-
siur budaya gado-gado?

Tetapi budaya adiluhung dan kebutuhan perut sering tidak seiya-sekata. Sering
bertolak-belakang. Onoy tidak punya pilihan lain atas masa depannya sendiri, perutnya sendiri. Juga, cinta saja tak’kan sanggup mengenyangkan perut. Onoy harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, terutama karena dia laki-laki.
Dan soal budaya adiluhung yang masih terpancar dalam perilaku keseharian gadis Jawa ini, bukan berarti tinggal itu ahli waris tunggalnya. Onoy percaya di Bangka pun masih ada, mungkin masih bejibun. Semoga. Pasti.

Ah, Ningsih…Andai jarak Jawa-Bangka cuma sejauh Sungailiat-Pangkalpinang… Andai kau mau kuajak pindah ke Bangka…

Onoy tidak bisa menunggu lama. Bangka lebih menjanjikan harapan masa depan
baginya, meski hanya berpendidikan diploma tiga. Ditambah selembar bukti keterampilan berupa surat keterangan pengalaman kerja.

“Ningsih,” cuma itu yang awalnya meluncur dari lidah Onoy.

Ningsih membalas tatapan mata Onoy.

Rasa iba dan sayang begitu menggelayuti hati Onoy. Berat rasanya. Tetapi harus dikatakan. “Aku harus pulang, membangun masa depan di sana,” ujarnya.

Ningsih terkejut. Ningsih tidak menyangka.

Onoy bertambah iba. Tetapi ada kekuatan yang kembali membantu Onoy untuk berani memutuskan tindaklanjut hidupnya. Bukan perasaan. Bukan kebingungan. Bukan tanpa pernah bisa menentukan sikap terbaik. Keberanian untuk bersikap. Laki-laki harus punya sikap. Terlebih ikatan formal suatu komitmen sakral belum terjadi.

***

Keberanian itu pula yang akhirnya mengembalikan ia ke kampung kelahirannya, Sri Pemandang pucuk, yang ditinggalkannya selama belasan tahun. Kampung kecil yang terletak di sepanjang jalan dari luar Sungailiat menuju Pemali ini telah memberi aneka warna dan rasa dalam awal-awal hayatnya. Di kampung ini banyak kisah pembentukan dirinya yang tak habis dikupas dalam satu buku tebal.

Selama belasan tahun ia pergi, tak sekali pun ia pulang. Menjenguk sesaatpun tak dilakukan. Orang-orang kampung itu tahunya bahwa Onoy masih hidup. Itu saja. Sementara ia justru terombang-ambing oleh badai krisis jati diri, cinta, dan krisis moneter melanda dan meluluhlantakkan perekonomian masyarakat dan berimbas dengan pemutusan hubungan kerja.

Ya, Onoy mengalami masa-masa mengambang antara berstatus karyawan dan
tidak ada pekerjaan. Waktu itu bisnis properti tiba-tiba mati, proyek-proyek jadi peti mati. Dinding-dinding tak beratap mirip kuburan-kuburan usang. Harga-harga material menjulang melebihi ketinggian gedung-gedung jangkung mencakar langit. Banyak bank jadi bangkrut. Banyak konglomerat terjerat hutang beserta bunga-bunga hutang. Orang-orang kaya yang sebenarnya kaya hutang, sampai-sampai bisa menyelam di dalam kubangan kredit, akhirnya ditempeleng habis-habisan oleh badai krismon itu.

Onoy memang tidak terbelit kredit dan hutang trilyunan rupiah. Sebab Onoy cuma karyawan biasa. Cuma seorang buruh bangunan. Cuma seorang pekerja kontrakan untuk menggarap pembangunan perumahan kelas menengah-bawah (meski ternyata juga
dibeli oleh orang berduit banyak untuk investasi).

Lalu dia pindah ke Jawa, ke Jogja. Tidak untuk jadi pelajar atau pun pengajar. Kecuali untuk memulai penghidupan yang layak. Terlebih, ia menghindarkan diri dari wabah “busung lapar” di kota besar. Dan, di sanalah ia terlibat dalam sebuah kisah yang melibatkan hati dan rasa orang lain, yaitu seorang gadis Jawa bernama Retnoningsih itu.

***

Sekarang ia tengah dipandangi oleh Rosalia yang masih diliputi kepenasarannya.

“Bang, atas dasar apa Abang ingin mendekatiku?” tanya Rosalia. “Iseng-isengkah? Pengisi waktu-kah? Pelampiasan sebuah kenangan dan harapan yang terpenggal-kah?”

Onoy diam. Lalu ia memandang hamparan laut biru lapang.

“Apakah aku hanya hendak Abang jadikan jembatan penghubung antara masa lalu Abang dengan masa kini, bahkan mungkin sampai masa akan datang, masa ketika tenaga tinggal sepotong saja?”

Masa lalu? Tampaknya Onoy sedang mengolesi impiannya dengan susu dan madu cinta masa lalu. Cinta telah membuat Onoy hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuatnya selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi candu, membelenggu proses kreatifnya dan membuat kualitas dirinya mandul. Cinta yang membuat dirinya lupa daratan, yaitu lupa bahwa dia masih muda dan punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan dirinya.

Masa lalu tidak membuatnya maju seperti sekarang, yang menapakkan kakinya ke sebuah kantor yang cukup bonafid di kotanya. Masa-masa itu memang penuh pemasungan intelektual. Keberanian tidak ada, kecuali ketakutan dan kekhawatiran terhadap perasaan dan sikap orang lain. Perasaan itu begitu kuat membelit kapasitasnya sebagai laki-laki, dan kini masih terasa menjeratnya.

Onoy masih belum menyahut. Dalam hati ia hanya bisa berkata, “Maafkan aku,
Ros, sebab aku gagal mengenyahkan hantu masa lalu.”

“Apakah aku adalah wujud sebuah peribahasa ‘tak ada rotan, akar pun jadi’. Iya, Bang?”

Onoy tidak hendak menyahut, mengelak atau memberi pengertian. Yang tiba-tiba menyeruak dari kabut pikirannya justru ucapan seorang kawan, “Kalau kau sudah menguburkan sosok masa lalumu, biarkan dia tenteram di sana. Andai kau biarkan jiwamu berbalik mundur dan pikiranmu menggali kuburan itu, tinggal tunggu saatnya giliran kau yang akan terjerumus sendiri di situ. Sosok masa lalu itu bisa menjelma menjadi ulat yang siap memakan buah-buah kebaikanmu, bahkan cikal-bakal buah itu.”

“Bang!” tegur gadis itu. “Ini realita, Bang. Realita bahwa sekarang Abang ada di Bangka, saat ini sedang bersama aku di Sungailiat, di pantai Sanlochu. Bukankah kita hidup di masa sekarang dan akan menuju masa depan?”

Onoy tidak sanggup bicara apa-apa. Rosalia semakin tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Onoy, kecuali ia merasa Onoy tidak menyimak. Ia merasa Onoy tidak menghargai keberadaannya saat itu. Betapa sedih hatinya.

“Bang, di dekat Abang adalah aku, bukan masa lalu, bukan gadis Jawa itu. Abang harus realistis. Cobalah Abang pikir lagi,” tandas Rosalia yang kecewa. Lantas ia segera meninggalkan Onoy seorang diri di atas batu karang yang digempur ombak. Ia tidak bisa berlama-lama dalam kebisuan sosok pria ini. Ia harus realistis; jika memang tak ada tanggapan lagi, tak ada guna ia mempertahankan hubungan mereka. Apa boleh buat.

Realistis? Berpikir realistis? Relevansi dan kontekstual? Onoy mengernyitkan dahi. Tapi kenapa hantu masa lalu itu tak jua sudi menjauh dan berlalu.

Onoy tersentak. Ia merasa tiba-tiba tergugah dari tidur panjang dalam dekapan masa lalu. Bukankah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap meneruskan perjalanannya ke depan? Bukankah ia telah berani meninggalkan masa lalu demi tujuan baru. Toh gerbang menuju jenjang kemantapan karier sudah sekian tapak dilaluinya. Bukankah watak dan kesantunan adalah ungkapan jiwa yang bersenyawa dengan hati nurani, bukan semata-mata hasil ciptaan suatu adat-budaya sukua atau daerah tertentu?

Ah, alangkah dungunya aku! Onoy mendesah setelah menyadari sesuatu. Segera ia bangkit. Ia harus mengatakan sesuatu pada Rosalia. Kemudian ia melihat sekelilingnya tanpa menoleh ke arah Rosalia.

“Kau benar, Ros. Aku memang tidak realistis. Tubuhku ada di sini, tapi jiwaku masih saja mengembara di masa lalu, menikmati cumbuan-cumbuan semu masa silam.”

Namun Rosalia tidak ada lagi di situ. Suara manusia lainnya pun tak terdengar. Kecuali resah angin pantai yang mengipasi rasa bersalah dalam diri Onoy.

*******
babarsariyogya, 2002

Tentang unhyecaem

sakit hati quw buach , . , !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Entri ini ditulis dalam saran. Buat penanda ke permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s