ku Bukan Bayangan


Cerpen S. Kurnian Daru

Angin itu berhembus semakin kencang, bahkan rasanya sanggup membuyarkan kepingan pikiran dalam otakku. Sayangnya, akar-akar pikiranku tertancap dalam dan tak rungkat oleh angin, entah badai….

“Rokokmu tinggal satu hisapan lagi.”

Kukeluarkan bungkus rokok Marlboro merah dari dalam saku.

“Tidak, terima kasih. Nafasku sudah sesak, bahkan satu hisapan ini pun tak sanggup kuteruskan.”

Kubuang batang rokok yang tinggal dua centimeter yang sudah terasa panas di jariku, mungkin juga panasnya merambat dalam hatiku.

“Ton, apa yang kau rencanakan? Menikmati nasi goreng lagi malam ini?”

Diam. Hening. Tetap menikmati dingin angin sore di bangku taman. Lima menit kemudian…

“Pergi, lompat pagar dan berkumpul dalam hangatnya malam. Tapi aku masih belum
pasti.”

“Kau, Tan, mau ke mana kau malam ini?.”

“Malam jam berapa?”

Lima menit terdiam.

Benar, bodoh, jam berapa. Bagiku, setiap jam adalah waktu.

“Sepulang ke rumah.”

Aku tak kuasa tersenyum. Bodohnya aku.

“E…mandi, makan malam, dan memutar otak mencari jawaban untuk soal-soal PR ku, kenapa?.”

Senyumku keluar.

“Tan, aku nanti malam kewarung mang Sani, makan nasi goreng babat, minum es teh, merokok dan bercerita dengan Saipul dan Deden.”

“Sampai pagi Ton?,”

“Mungkin.” Jawabku dalam senyum dan memandang hilangnya sinar matahari, yang telah mengundang gelap diikuti oleh suara adzan yang memanggil.

Angin kembali bertiup, kali ini tidak hanya kencang tapi juga membawa
kedinginan yang menusuk tulang-tulangku yang terbalut lengan panjang.

Aku berdiri, berjalan meninggalkan kursi taman yang cat merahnya sudah tak kelihatan. Aku pulang, Tania pulang mandi, makan, kerjakan tugas dan ketika semua terlelap, jam sebelas malam, Toni kembali melompati pagar menuju warung mang Sani, makan nasi goreng dan es teh. Bercerita dengan Saipul dan Deden akan nikmatnya hari ini mendapat rejeki dan lucunya perjalanan hidup, hingga kembali dalam kamar, ketika mata telah terkantuk, melepaskan celana jeans butut yang sudah sobek serta jaket jeans belel, menyimpan topi hitamku yang menyembunyikan rambutku yang sebahu, menyembunyikan Marlboroku.

Dan…esok pagi aku terbangun, sebagai Tania dengan rok hitamnya….Tania si anak perempuan mama.

***
Sudut, alam raya, 24-9-02

Tentang unhyecaem

sakit hati quw buach , . , !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
This entry was posted in Tak terkategori. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s