“Rokokmu tinggal satu hisapan lagi.”
Kukeluarkan bungkus rokok Marlboro merah dari dalam saku.
“Tidak, terima kasih. Nafasku sudah sesak, bahkan satu hisapan ini pun tak sanggup kuteruskan.”
“Ton, apa yang kau rencanakan? Menikmati nasi goreng lagi malam ini?”
Diam. Hening. Tetap menikmati dingin angin sore di bangku taman. Lima menit kemudian…
“Pergi, lompat pagar dan berkumpul dalam hangatnya malam. Tapi aku masih belum
pasti.”
“Kau, Tan, mau ke mana kau malam ini?.”
Benar, bodoh, jam berapa. Bagiku, setiap jam adalah waktu.
Aku tak kuasa tersenyum. Bodohnya aku.
“E…mandi, makan malam, dan memutar otak mencari jawaban untuk soal-soal PR ku, kenapa?.”
Dan…esok pagi aku terbangun, sebagai Tania dengan rok hitamnya….Tania si anak perempuan mama.