Tidak, pikirku. Ia bau dan aku enggan mendekatinya.
Ia meronta lagi dengan suara yang lebih pilu.
Berkecamuk dalam hatiku, akankah aku menolongnya.
Lama aku berpikir. Dunia menghendaki aku mengabaikannya.
“Diam!” teriakku lantang sambil aku menendangnya. Kupandangi ia lagi.
Sempat juga terpikir dalam pikirku, mungkin ia hanya pura-pura.
syapa kha itU………………………………………?????????????????????